Photobucket
News Update :

Berita Bobotoh

Bicara Persib

Jika Saja van Dijk Menerima Lamaran Persib...


Jika Saja van Dijk Menerima Lamaran Persib...
Jika mampu menggaet Sergio van Dijk, Persib mendapat jaminan memiliki ketajaman di lini depan. Van Dijk terbukti sebagai mesin gol yang ampuh.
Seperti diketahui, Persib terus menjalin komunikasi dengan striker naturalisasi yang lahir di Assen, Belanda, 30 tahun lalu itu. Salah satu rintangan berat yang akan mengadang ambisi besar Persib adalah nilai transfer van Dijk yang begitu tinggi.
Van Dijk sendiri dikenal sebagai striker yang tajam. Di klubnya saat ini, Adelaide United, dia sudah mencetak 25 gol dalam 52 pertandingannya. Gol pertamanya untuk klub A-League Australia itu tercipta saat mengalahkan Shandong Luneng pada Liga Champions Asia, dua tahun lalu.
Musim pertamanya bersama Adelaide, van Dijk bahkan menjadi top skor A-League. Sepanjang musim 2010/11, dia mencetak 16 gol untuk Adeladie United.
Sebelumnya, saat membela Brisbane Roar, van Dijk juga unjuk ketajaman. Dua musim membela klub yang pemegang saham terbesarnya saat ini adalah Grup Bakrie, van Dijk mengemas 25 gol dalam 50 pertandingannya.
Van Dijk sendiri mengawali karier di Belanda. Dia sempat membela tiga klub papan tengah Belanda, Groningen, Helmond Sport, dan Emmen. Di klub terakhir, ketajaman van Dijk mulai terlihat dengan mencetak 32 gol pada 87 penampilannya selama tiga tahun. [ing]
Sumber : inilahJabar

Alasan Bobotoh Setuju Sergio Van Dijk Direkrut


Alasan Bobotoh Setuju Sergio Van Dijk Direkrut
Rencana Persib menggaet striker naturalisasi keturunan Indo-Belanda Sergio Van Dijk mendapat dukungan dari Asep Abdul ketua umum Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu).
Menurutnya, rencana perekrutan striker yang kini tengah memperkuat salah satu klub asal Australia Adelaide United itu bisa untuk mengejar target skuad Persib di musim ini. Termasuk berapapun anggaran biaya yang akan dikeluarkan nantinya.
“Kalau memang Persib ingin mengejar target tahun ini, itu sah-sah saja. Berapapun biayanya kan,” Kata Asep kepada INILAH.COM via telepon selulernya, Senin (17/9/2012).
Ditambahkan Asep, pemain yang mengawali karirnya bersama klub Groningen itu, mempunyai track record yang cukup baik. Dengan melihat itu semua, bila kemungkinan Sergio bergabung bersama Maung Bandung musim ini diharapkan akan menjadi salah satu mesin gol bagi tim.
“Lihat track record, Sergio pemain berkualitas. Mudah-mudahan saja kalau dapat bergabung nanti, bisa menjadi mesin pencetak gol bagi Persib,” pungkasnya. [ito]

Sumber : inilahjabar

Cinta (Buta) Itu Bernama "Intervensi"

Arena Bobotoh: Cinta (Buta) Itu Bernama “Intervensi”

PERSIB, bukan sekadar nama klub sepakbola. Bagi saya secara pribadi, PERSIB merupakan semangat karena setiap aksi PERSIB seringkali memancing reaksi yang melibatkan evaluasi empiris dan emosional—sebai
knya libatkan evaluasi logis yang sayangya sebagian besar hanya dimiliki oleh orang-orang yang paham dan mahfum dengan sepakbola.

Saya coba mengambil tiga kata kunci dari definisi tersebut–reaksi, empiris (pengalaman dan logika), dan emosional—yang mau tidak mau ternyata menjadi “intervensi halus” yang dilakukan oleh (bisa jadi) manajemen, pemain, dan bobotoh itu sendiri terhadap PERSIB (dalam hal ini diwakili oleh Pelatih yang dengan visi dan misinya menakar arah PERSIB ke jalur yang lebih baik; tidak satu pun pelatih yang ingin menjerumuskan timnya).

“Intervensi halus” ini menjadi salah satu motivasi saya dalam menulis artikel ini, selain fakta dinamika pembentukan tim PERSIB itu sendiri sebagaimana tertuang di berbagai media, cetak atau pun elektronik. Mulai dari geregetnya penentuan asisten pelatih, perhatian para mantan PERSIB yang menganggap bahwa manajemen “kurang mampu” membawa PERSIB ke arah yang benar (menurut pandangan mereka), pemain muda yang ingin jam terbang lebih, keputusan tidak diperpanjangnya kontrak 4 pemain asing yang merasa memiliki ikatan emosional dengan bobotoh, pemain senior yang belum ada kepastian, pemain buruan yang masih dirahasiakan, hingga keinginan bobotoh yang terkadang tidak sejalan perihal perekrutan pemain.

Saya yakin, semua itu muncul dengan satu motif, yaitu rasa cinta terhadap PERSIB. Artinya, semua pihak yang memberikan reaksi kepada PERSIB adalah pihak-pihak yang mengaktualisasikan rasa cintanya dengan cara mereka masing-masing, cara yang yang didorong oleh rasa memiliki, perhatian, dan kepedulian. Cara yang menurut takaran mereka adalah hal yang sebaiknya dilakukan untuk kebaikan PERSIB, dengan kemungkinan bahwa cara tersebut bisa jadi menghasilkan keluaran yang tidak benar di kemudian hari. Dapat dikatakan, keluaran/hasil ini merupakan muara dari ragam cara dan ekspresi dari pihak-pihak yang mengatulisasikan rasa cintanya bagi PERSIB. Meski begitu, dari beberapa cara tersebut ternyata secara tidak sadar itu merupakan intervensi. Setidaknya ada 3 pihak yang saya anggap melakukan intervensi kepada PERSIB (urutan tidak menunjukkan peringkat).

Yang pertama, intervensi datang dari pihak manajemen. Meski saya sendiri tidak begitu puas dengan beberapa hal dalam manajemen PERSIB jika berkaca dari hasil beberapa musim yang lalu, saya tidak ingin terjebak dengan menyudutkan kinerja manajemen di musim lalu (sekali lagi saya tegaskan bahwa apa pun yang dilakukan manajemen di musim lalu, itu merupakan cara yang dalam takaran mereka merupakan hal yang sebaiknya dilakukan untuk PERSIB, dan ini tentunya dilandasi oleh visi untuk membawa PERSIB ke arah yang lebih baik).

Secara singkat, manajemen musim lalu tampaknya terlalu reaktif; hal ini karena dilandasi ikatan emosi dan pengalaman tanpa dibarengi kesabaran ketika melihat PERSIB keteteran, reaksi yang tampaknya kurang didasari pemahaman mendalam bahwa kebaikan sebuah tim tidak bisa diperoleh secara instan. Oleh karena itu, silahkan semua pihak yang berbagi informasi mengenai kinerja manajemen di musim lalu memberi penilaian tersendiri terhadap kinerja manajemen.

Oleh karena itu juga, saya tidak akan berbicara banyak mengenai apa yang dilakukan pelatih dan manajemen saat ini karena sikap ini saya anggap sebagai bukti dukungan saya kepada PERSIB, yang diwakili oleh manajemen dan tim pelatih (manajemen sudah menyerahkan pengurusan teknis kepada tim pelatih). Saya ingin pihak-pihak yang mendukung PERSIB juga sabar dan sadar bahwa manajemen pasti bekerja berdasarkan pengalaman setelah berkali-kali mengalami “hasil yang kurang menggembirakan” di musim lalu, tanpa ada harus tekanan berlebih dari orang-orang yang mengaku cinta PERSIB. Saya yakin, manajemen belajar dari pengalaman yang tidak menyenangkan dan saya juga yakin manajemen juga cinta pada PERSIB dan ingin PERSIB menjadi yang terbaik (lagi) di Indonesia, bahkan Asia.

Saya juga yakin manajemen bukanlah orang-orang yang ingin menghancurkan PERSIB, hanya sudut pandang kita dalam mencintai PERSIB lah yang berbeda, perlakuan kita terhadap PERSIB lah yang berbeda, sehingga dari perbedaan ini lah PERSIB mulai bimbang dan mempertanyakan “cinta” kita. Sekali lagi, PERSIB adalah semangat, PERSIB adalah jiwa. Secara sederhana, cintailah PERSIB seperti kita mencintai pasangan atau anak kita; penuh pertimbangan demi kebaikan mereka di masa mendatang, kadang tidak baik tapi benar, dan kadang kita harus menahan perasaan untuk kebaikannya.

Sekarang saya coba menakar kembali ketiga kata kunci yang telah disebutkan; reaksi, empiris, dan emosional. Tiga hal ini lah yang jika diperhatikan menjadi perlakuan mendasar para pecinta PERSIB.

Intervensi kedua datang dari pemain–yang secara tidak sadar menggunakan ketiga kata kunci tersebut—dalam melakukan “intervensi” terhadap pelatih. Beberapa pemain bereaksi terhadap keputusan pelatih jika jarang dimainkan. Mereka merasa tidak diberi kesempatan dan kepercayaan (padahal kesempatan bergabung bersama PERSIB itu sendiri sudah melebihi kebanggaan tersendiri dan kepercayaan yang luar biasa dari PERSIB, apalagi bagi pemain yang dibesarkan oleh PERSIB) untuk memberikan yang terbaik—menurut mereka—bagi PERSIB. Perlu disadari bahwa pelatih lebih tahu kepentingan tim, pelatih juga tahu ini mungkin tidak baik buat mereka tapi ini lah yang benar—dalam pandangan profesionalnya—untuk PERSIB. Jadi ketika pemain mulai bereaksi terhadap keputusan pelatih, terlebih reaksi tersebut kadang menjadi bahan pemberitaan media. Sekali atau dua kali mungkin tidak menjadi masalah, tapi jika berkali-kali,…?

Kita bisa menebak reaksinya. Bisa jadi, dari sini lah “keajaiban” reaksi tersebut dimulai, media menjadi sarana pemain menyampaikan keluh kesah yang berakibat pada sebuah pemikiran yang bisa muncul dalam benak pelatih bahwa dia ternyata tidak dipercaya oleh pemainnya, dia merasa bahwa entah bagaimana dia harus bisa mewadahi keinginan ini karena jika tidak, dia akan dianggap tidak membawa PERSIB ke arah yang diinginkan oleh beberapa pihak. Ada baiknya jika pemain merasa keberatan dengan keputusan pelatih, yang bersangkutan bisa langsung berbicara kepada pelatih. Saya yakin pelatih punya alasan yang jelas, logis, objektif, dan bertanggung jawab karena menakarnya dari sudut pandang profesionalismenya.

Tapi jika opini pemain telah menjadi bahan media, interpretasi pembuat berita bisa jadi berbeda karena (mungkin) pembuat berita juga memiliki sudut pandang tersendiri mengenai opini tersebut. Sehingga, secara tidak sadar idealisme pembuat berita juga masuk dalam opini pemain yang bersangkutan. Di sisi lain, kita juga bisa memahami keinginan pemain tersebut merupakan bukti kecintaannya terhadap PERSIB karena dia merasa punya pengalaman tersendiri tentang bagaimana dia bisa memberi sumbangsih bagi PERSIB, yaitu dengan “bermain” untuk PERSIB.

Sebenarnya, “bermain” untuk PERSIB itu sendiri bisa diartikan sebagai bagaimana setiap elemen dalam PERSIB memerankan bagiannya demi kepentingan PERSIB. Secara sederhana, ketika beberapa pemain tidak dimainkan secara reguler, artinya bahwa dia sedang memainkan peran untuk memberikan jaminan pada para pemain lain bahwa jika mereka tidak dapat bermain karena satu dan lain hal, pelatih akan selalu punya pilihan untuk tetap menjalankan kepentingan PERSIB. Segi inilah yang menurut saya kurang disadari oleh pemain yang mengaku sebagai pemain professional di PERSIB.

Kecintaannya terhadap PERSIB telah membuat PERSIB bimbang. Ini bukanlah bentuk kecintaan yang seharusnya diperlihatkan oleh pemain—terutama binaan PERSIB. Jadi tidak usah memikirkan pemain yang memang tidak loyal terhadap PERSIB, meski mereka merupakan binaan PERSIB, binalah pemain yang dalam pandangan profesionalnya memegang prinsip loyalitas yang tidak bisa diukur dari besaran nilai kontrak atau pun jaminan “bermain” reguler.

Coba kita bayangkan jika semua pemain ingin dimainkan secara reguler. Pelatih akan sangat bingung siapa yang akan menjadi pemain “pendukung”, siapa yang akan menjadi starting eleven, dan apa yang akan terjadi jika saya tidak memenuhi keinginan mereka?. Kebingungan pelatih ini lah yang bisa dikatakan menjadi sebuah bentuk intervensi secara tidak langsung.

Terakhir, meski berat mengatakannya, adalah bobotoh, pendukung terhebat yang pernah ada, yang dengan fanatismenya selalu menghidupkan PERSIB, pendukung yang paling setia, tidak pernah selingkuh. PERSIB adalah harapan mereka untuk mempertahankan semangat, kemenangan PERSIB akan membawa berkah bagi banyak pihak karena dengan semangat kemenangan itu lah bobotoh secara tidak langsung menggerakkan perekonomian masyarakat kecil.

Pedagang koran eceran menerima dampak nyata dari hal ini, bagaimana mereka kekurangan jumlah eksemplar karena bobotoh tidak sabar untuk membaca ulasan, eforia, dan hegemoni pertandingan kemarin. Bagaimana bobotoh begitu bersemangat menjalani aktivitas mereka karena memiliki pandangan emosional untuk menceritakan kemenangan PERSIB di pertandingan kemarin.

Meski demikian, hal sebaliknya bisa terjadi jika PERSIB kalah dalam sebuah pertandingan. Jangankan membeli koran, membaca ulasan pertandingan pun rasanya tidak menyenangkan, bahkan kita kadang menjadi sensitif dalam beraktivitas terlebih jika ada rekan kerja yang membahas kekalahan PERSIB. Sebuah perasaan yang luar biasa, semangat yang mampu menggerakkan emosi setiap individu pada satu kesamaan, dan PERSIB menjadi muara emosi dari seluruh bobotoh.

Yang tetap bertahan dari dinamika emosional bobotoh adalah meski PERSIB membawa mereka pada harapan yang meninggi dan kesedihan yang mendalam, mereka tidak pernah berpikir untuk mendukung tim lain di Indonesia ini—ini yang saya sebut sebagai pecinta yang tak pernah selingkuh. Loyalitas tanpa batas meski tidak diwadahi sebagai salah satu organisasi profesi. Tidak perlu professional, ikhlas dan sabar menjadi modal utama. Bobotoh is the best, ever.

Meski begitu, karena didorong oleh sense of belonging yang begitu tinggi terhadap PERSIB, beberapa bobotoh merasa memiliki pandangan bahwa PERSIB harus dijalankan seperti ini atau seperti itu. Misal, dalam hal perekrutan pemain, bobotoh merasa bahwa beberapa pemain tidak seharusnya tidak diperpanjang kontraknya atau “kenapa pemain ini yang direkrut, dia kan tidak bagus”. Atau ketika bobotoh merasa pelatih tidak bagus dalam meramu tim, ketika PERSIB dikalahkan tim lain, atau ketika pelatih tidak memainkan pemain yang mereka anggap sebaiknya/seharusnya dimainkan.

Hal-hal semacam ini lah yang menurut saya berujung pada intervensi terhadap kewenangan pelatih dalam menentukan arah PERSIB. Atau bagaimana bobotoh berpendapat bahwa pemain tertentu tidak bermain sepenuh hati, meski memang tampaknya iya. Tetap saja ini merupakan jenis intervensi terhadap pilihan pelatih dan menjadi beban tersendiri terhadap pemain yang bersangkutan karena merasa tidak dipercayai. Saya tetap yakin bahwa tidak satu pun pemain—di klub mana pun—yang ingin membawa timnya menjadi hancur, hanya saja mungkin karena beberapa elemen yang tidak memainkan perannya sesuai kewenangan yang membuatnya dalam posisi ini.

Sebagai simpulan, reaksi manajemen dan tim pelatih, reaksi pemain, dan reaksi bobotoh malah menjadi aksi yang (mungkin) tidak melalui tahap evaluasi mendalam sehingga malah menjadi bumerang bagi PERSIB itu sendiri. Kembali, menyongsong musim baru harapan tinggi dan doa tulus saya panjatkan demi PERSIB, namun kesadaran tinggi juga saya sertakan seandainya harapan saya tidak terwujud. Apapun itu, PERSIB akan tetap menjadi harapan saya. Stop intervensi, sampaikan kritik dan saran secara bijak, proporsional, dan sistematis; kurangi sebaran informasi yang tidak penting bagi PERSIB baik dari jumlah atau pun media informasinya.

Tulisan ini hanya bersifat opini tanpa ada maksud menyudutkan pihak mana pun, semata-mata hanya sebagai bentuk kecil kepedulian saya sebagai bobotoh. Semoga bermanfaat.

Oleh: Tatan Tawami/swasta. Bobotoh PERSIB ti orok beureum.

Sumber : Simamaung.com

Kembalilah Mental Juaramu, Persib

Kembalilah Mental Juaramu, Persib
Persib Bandung adalah legenda dalam dunia sepakbola Indonesia. Bagaimana tidak, dengan tag line “Bobotoh sa Alam Dunya”, pendukung Persib atau lebih familiar dikenal dengan sebutan Bobotoh tersebar di seantero jagad. Terdengar seperti hiperbolik, tapi memang begitulah faktanya.
Persib Bandung bukan hanya menjadi milik warga Kota Bandung saja, tetapi sudah menjadi milik warga Jawa Barat, atau bahkan warga Indonesia. Para bobotoh ini selalu militan dan gegap gempita dalam mendukung Persib. Ini merupakan salah satu modal utama Persib dalam mengarungi liga musim 2012/2013.
Demi ambisi gelar juara di musim yang akan datang (tentu seperti musim-musim sebelumnya), Persib mulai berbenah memperbaiki kekurangan di beberapa pos. Untuk lini pelatih, mantan pemain legendaris dan mantan Pelatih akademi muda Persib yang malang melintang di Pelita Jaya (Kang Djajang Nurdjaman) mulai diberi kepercayaan penuh sebagai Pelatih Kepala (Head Coach). Diharapkan dengan bergabungnya beliau sebagai Nakhoda baru (tapi muka lama) Persib, permainan tim menjadi lebih menggigit dengan Possesion Football seperti yang selalu diperagakan oleh saudara muda Pelita Jaya Karawang. Betapa tidak, dengan Possesion Football yang diperagakan, Pelita Jaya mampu memaksimalkan potensi ketiga striker asingnya (1 orang sudah naturalisasi).
Dari lini pemain sampai saat ini baru 2 (dua) orang pemain yang dikabarkan sudah (akan) bergabung dengan Persib, Asri Akbar (Persiba Balikpapan) dan Dzumafo H. Affandi (Arema). Dan gebrakan Kang DN yaitu dengan melepas 4 pemain asingnya. 2 (dua) orang pemain muda binaan persib (Wildansyah dan Budiawan) akhirnya dengan berat hati mengajukan pengunduran diri semata untuk menambah jam terbang mereka dan demi kebaikan mereka juga. Bila memang itu yang terbaik, ikhlaskanlah pak Umuh. Karena sepertinya Persib di musim yang akan datang tidak akan terlalu memprioritaskan pemain muda untuk mengejar ambisi gelar juara.
Bagi saya pribadi, tidak masalah siapapun pemain Persib musim depan, mau yang bertitel bintang atau tidak sama saja. Yang paling dibutuhkan sekarang adalah mental bertanding!! Itulah yang menjadi momok menakutkan bagi Persib dari musim ke musim. Bertaburan pemain bintang bukan jaminan menjadi juara. Para pemain selalu (seperti) terlihat down mentalnya apabila bermain dengan kondisi di bawah tekanan. Tidak terlihat mental juara di setiap diri pemain. Selalu mudah terpancing emosi, sehingga skema permainan yang sudah bagus pun menjadi tidak berarti ketika mental pemain sudah jatuh.
Harus diakui bahwa sebenarnya secara teknis permainan, Persib sudah menampilkan permainan yang indah menawan dengan umpan-umpan pendek dari para pemainnya. Semoga ini tetap dipertahankan di musim yang akan datang terlepas siapapun starting line up nantinya, dengan catatan para pemain selalu bisa mengontrol emosi dan memiliki mental juara!!! Mengutip salah satu kalimat penyemangat hidup : MAN JADDA WAJADA!! PERSIB JUARA?? BISA!!!
Oleh: Muhammad Nur Abdullah Aziz / Penulis adalah civil servant di salah satu institusi pemerintahan di Banten dan selalu mendukung Persib
Sumber : simamaung.com

Sergio van Dijk Minggu Depan Gabung Persib?


Sergio van Dijk Minggu Depan Gabung Persib?
Setelah membatalkan merekrut Zaenal Arief, Persib dipastikan bakal menambah satu striker lagi. Dia adalah bomber naturalisasi yang namanya masih dirahasiakan.
Sosok tersebut memang masih menjadi tanda tanya. Manajer Persib Umuh Muchtar memang tidak menyebutkan nama sosok tersebut, namun sedikit memberikan gambaran bahwa pemain tersebut adalah seorang naturalisasi. Saat ini, pihaknya masih melakukan negosiasi dengan penyerang naturalisasi tersebut.
Umuh mengisyaratkan, striker bidikannya adalah mantan pemain Adelaide United A-League Australia yang tengah menjalani proses pengajuan naturalisasi, Sergio van Dijk warga keturunan di Belanda.
"Ya kita memang akan menambah satu striker lagi. Namanya sudah ada, dia striker lokal, karena dia pemain naturalisasi. Mudah-mudahan saja bisa kita bawa. Saat ini masih proses," ujar Umuh dihubungi INILAH, Senin (10/9) malam.
Pelatih Djadjang Nurdjaman pun mengakui, dirinya memang akan menambah satu striker lagi untuk melengkapi kekuatan lini depan Maung Bandung pada kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2012/2013 yang rencananya digelar November mendatang.
Saat ini Persib telah menggaet empat penyerang, Airlangga Sucipto, Sigit Hermawan, serta dua pemain asing Herman Dzumafo Epandi (Kamerun) dan Kenji Adachihara (Jepang).
"Ya seperti yang dikatakan manajer, kita akan kedatangan striker baru," kata Djadjang Nurdjaman di Mes Persib Jalan Ahmad Yani Kota Bandung.
Djanur -sapaan akrab Djadjang Nurdjaman, menambahkan, pemain tersebut belum pernah merumput di Liga Indonesia, usianya kira-kira 28 tahun. Saat ditanya apakah dia Sergio Van Djik, Djadjang hanya tersenyum.
"Ya pokoknya dia pemain lokal, tapi dia belum pernah main di sini, timnas juga belum pernah. Kalau usianya kira-kira 28 tahun. Untuk namanya, nanti saja kalau sudah deal," ucapnya.
Namun, Djadjang memastikan pemain tersebut akan bergabung bersama skuad besutannya paling lambat pekan depan. Saat ini, pihaknya masih melakukan komunikasi.
"Kita sudah lakukan komunikasi. Mudah-mudahan Minggu depan sudah dapat bergabung. Soal naturalisasi ataupun pemain keturunan ya tafsirkan sajalah," pungkasnya.
Saat ini, di Indonesia telah memiliki lima pemain keturunan Belanda, yakni Irfan Bachdim (striker), Ruben Wuarbanaran, dan Stefano Lilipaly, Diego Michiels, Jhonny van Beukering (striker). Selain itu, terdapat juga dua pemain naturalisasi asal Nigeria, Greg Nwokolo (striker) dan Victor Igbonefo, satu naturalisasi asal Uruguay, Christian Gonzales (striker), serta satu naturalisasi keturunan Jerman, Kim Jeffrey Kurniawan.
Sementara untuk Sergio van Dijk, saat ini naturalisasinya masih dalam proses. Dia belum disumpah menjadi warga negara Indonesia (WNI). Seharusnya, jadwal naturalisasinya berlangsung Juni 2012 lalu. Namun, hingga saat ini statusnya masih belum menemui kejelasan.[ito]
Sumber : inilahJabar

Sebelum ke Persib, Asri Sempat Telepon Zulkifly


Sebelum ke Persib, Asri Sempat Telepon Zulkifly
Sosok Zulkifly Syukur dan Hendra Ridwan, diakui Asri Akbar telah dikenalnya dengan sangat baik. Ketika akan bergabung di Persib Bandung, Asri pun sempat melakukan komunikasi terlebih dahulu untuk bertemu di Bandung.

"Sebelum kesini saya teleponan sama Zul dan Hendra. Ya, nanti kita akan bertemu, kata mereka. Namun setelah saya kesini mereka malah tidak ada, saya juga tidak tahu sekarang mereka dimana," kata Asri di Mess Persib Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Sabtu (15/9/2012).

Keakraban Asri bersama Zulkifli Syukur dan Hendra Ridwan bukan hanya karena berasal dari kota yang sama (Makasar). Namun dikatakannya, dahulu pernah satu tim sewaktu membela klub Persimaros yang waktu itu masih divisi utama.

"Saya begitu mengenal mereka karena pada tahun 2005 lalu, sempat membela tim yang sama yaitu Persimaros di divisi utama," ucapnya.

Setelah kini bergabung bersama Maung Bandung, dirinya tidak menyangka bakal menggenakan kaos tim berbeda. Padahal sebelumnya, diketahui Asri, Zulkifly Syukur termasuk pemain yang dipertahankan manajemen.

"Padahal, saya pikir mereka bakal dipertahakan di Persib, gak taunya nggak," pungkasnya.[ang]

Sumber : inilahjabar

Semangat Bandung dan Mimpi Viking


Semangat Bandung dan Mimpi Viking


 Viking Persib Fans Club kemarin memperingati hari jadinya yang ke-19. Seperti biasa, acara peringatan ditandai dengan prosesi memandikan Patung Ajat (Patung Sepak Bola) di Monumen Persib, Jalan Tamblong, Kota Bandung.

Sementara acara puncaknya dimeriahkan dengan panggung hiburan terbuka yang digelar tadi malam di kawasan Babakan Siliwangi.

Sekitar 1.000 bobotoh bertepuk tangan ketika Heru Joko, orang nomor satu di komunitas pendukung Persib Bandung, berdiri di podium. Lalu terdengar gemuruh nyanyian ‘lagu kebangsaan’ Padamu Persib – gubahan dari lagu Padamu Negeri. “Alhamdulillah, kalian dan kita semua keren,” sapa Heru.

Apanya yang keren? Yang dia maksudkan adalah bahwa semua bobotoh tetap mencintai Persib dan tak seorang pun yang berhenti mendukung Persib. Tidak lebih dari itu. Faktanya memang tahun ini tidak ada yang lebih dari itu yang layak dirayakan.

Pekan lalu Persib Bandung menutup musim ISL 2011-2012 dengan kekalahan 0-1 atas Sriwijaya FC, sehingga hanya bisa menempati peringkat ke-8. Beberapa waktu sebelumnya, Viking juga dirundung duka yang amat mendalam. Salah seorang anggotanya, Rangga, tewas dalam insiden tragis di Gelora Bung Karno, Jakarta, ketika Persib main tandang lawan Persija Jakarta.
Suasana duka masih terasa menyelimuti peringatan HUT yang ke-19 tersebut. Sampai kapan kematian Rangga akan terus diingat? Tak seorang pun tahu. Tapi tak sepatutnya para Vikers melupakannya.

Para pentolan Viking harus memanfaatkan suasana keprihatinan ini sebagai momentum untuk mengubah para bobotoh menjadi sebuah komunitas yang lebih dewasa, bijak, bertanggung jawab, dan produktif.

Untuk eksistensi sebuah komunitas, 19 tahun merupakan usia matang dan dewasa. Di dunia ini, kecuali di negara-negara maju, tidak banyak fans club sebuah cabang olahraga yang mampu eksis sampai belasan tahun. Ini prestasi keren yang ditorehkan Viking Persib Fans Club.

Viking juga dianugerahi sumber daya manusia yang amat besar. Dengan anggota resmi berjumlah di atas 70.000 bobotoh, yang tersebar di banyak pelosok Tanah Air dan di sejumlah kota mancanegara, Viking bisa dikategorikan sebagai salah satu komunitas suporter olahraga terbesar di dunia. Itu melebihi jumlah pendukung Real Madrid, klub sepak bola terkaya kedua di dunia setelah Manchester United.

Dengan aset SDM sebesar itu, Viking berhak untuk punya mimpi besar. Bagi sebuah komunitas seperkasa Viking, bukan saatnya lagi untuk berperilaku kekanak-kanakan seperti yang terjadi selama ini. Memimpikan Persib menjadi juara --minimal di tingkat nasional dan regional seperti yang pernah dicapai di masa lalu– bukanlah mimpi besar. Itu mimpi anak-anak. Lagi pula mimpi tersebut mustahil bisa diwujudkan dengan cara-cara seperti yang selama ini dipertontonkan.

Sah-sah saja para bobotoh mengekspresikan rasa cintanya pada Persib dengan berbagai tingkah dan bahasa, manakala tim kesayangan mereka bertanding. Tapi, mencintai Persib tidak cukup dengan semangat semata. Persib butuh lebih dari itu.

Kini, memasuki usia 20 tahun, saatnya bagi para dedengkot Viking untuk memikirkan langkah-langkah besar guna meraih mimpi besar. Sudah waktunya belajar tentang, misalnya, bagaimana para socis membangun klub-klub raksasa di Spanyol.

Ingat, Bandung adalah kota yang tepat untuk bermimpi besar. Mimpi tentang kemerdekaan bagi segala bangsa pun di dunia bermula di sini. Viking mewarisi semangat Bandung. Selamat Ulang Tahun.



Sumber : inilahjabar.com

Dino Akui Fisik Penggawa Persib Meningkat

Dino Akui Fisik Penggawa Persib Meningkat

Pelatih fisik Persib Bandung Dino Sefriyanto puji kondisi fisik Maman Abdurahman cs yang terus mengalami peningkatan dalam dua pekan terakhir. Perkembangan tersebut terlihat saat sesi latihan cross country, Sabtu (15/9/2012) pagi tadi.

“Saya rasa anak-anak terus mengalami peningkatan yang baik, itu terlihat dari sesi latihan yang dijalani hingga saat ini melakukan cross country. Dari jarak tempuh 10 kilometer, anak-anak mampu menyelesaikan waktu 35 hingga 45 menit. Ini adalah waktu yang cukup baik untuk seorang pesepakbola,” kata Dino di Mess Persib, Jalan Ahmad Yani Kota Bandung, Sabtu (15/9/2012).

Dino menambahkan, bila melihat kondisi tersebut, waktu tempuh yang didapat anak asuhnya sangat wajar. Karena jika dibandingkan dengan atlet lari, jeda waktu yang didapat tidak terlalu jauh, hanya terpaut delapan sampai 20 menit.

“Jarak waktu itu terbilang wajar karena mereka bukan atlet lari,” ujarnya.

Walau begitu, sejauh ini pihaknya belum dapat menyimpulkan berapa peningkatan VO2Max penggawa Maung Bandung. Karena untuk dapat mengetahui hasil akhir, anak asuhnya harus kembali menjalani cross country sesi terakhir yang akan dilaksanakan dikawasan Dago, Selasa (18/9/2012) depan.[ang]


Sumber : inilahjabar

Viking Ulang Tahun, 1.000 Bobotoh Mandikan Patung Legenda Persib

The Viking Persib Bandung

Kegiatan Prosesi 'sakral' memandikan Patung Adjat itu diikuti lebih dari seribu bobotoh Viking yang datang ke perempatan jalan raya yang cukup padat di Kota Bandung itu.

Hadir pada acara tersebut tokoh Viking Persib Fans Club seperti Heru Joko, Yana Umar dan Panglima Viking Ayi Beutik, mereka berbaur dengan bobotoh Viking lainnya yang datang bergelombang ke tempat itu.

"Hari ini Viking berulang tahun ke-19. Alhamdulillah kalian dan kita semua keren. Tak ada berhenti mendukung Persib dan kalian sudah membuktikannya," kata Heru Joko yang disambut aplaus dari anggotanya.

Kegiatan yang digelar sejak pukul 11.00 WIB itu berlangsung selama sejam. Para anggota Viking membersihkan taman monumen yang berada di depan Masjid Lautze tersebut.

Selain bersih-bersih taman, sebagian anggota Viking memandikan Patung Adjat dengan menggunakan air dan diberi sabun. Seorang anggota Viking dengan bertelanjang dada membersihkan bagian kepala patung yang dibangun pada tahun 1980-an itu.

Kegiatan memandikan Patung Adjat itu sendiri merupakan kegiatan ritual bobotoh Bandung setiap tahun. Selain pada HUT Viking, kegiatan memandikan patung yang terbuat dari perunggu itu juga dilakukan pada HUT Persib Bandung.

Pemandian patung itu dilakukan dengan khidmat diiringi Lagu Padamu Negeri yang diubah liriknya menjadi Padamu Persib.

Patung itu terkenal dengan Patung Adjat karena pembangunan monumen patung itu dilakukan pada tahun 1980-an yang dibangun pada masa pemerintahan Wali Kota Bandung H Ateng Wahyudi. Kebetulan waktu itu Adjat Sudradjat merupakan bintang Persib Bandung sehingga sebutan Patung Adjat lebih populer dibandingkan Monumen Patung Sepak Bola.

Prosesi bobotoh Bandung itu sempat mengakibatkan kemacetan di Jalan Tamblong dan Jalan Sumatera Kota Bandung itu, namun belasan anggota Polantan Polrestabes Bandung dikerahkan untuk mengatur lalu lintas di kawasan jalan yang mengakses ke Jalan Asia Afrika dan Alun-Alun Kota Bandung itu.

Sementara itu acara puncak HUT Viking ke-19 digelar di kawasan Babakan Siliwangi Kota Bandung yang digelar dalam bentuk Panggung Terbuka Viking yang akan berlangsung hingga Selasa malam.

Sumber: Republika

The Jakmania dan Viking Persib Hampir Bentrok di Tokyo?


13472307541206492860
Baraya Viking Persib Menyanyikan Yel-yel Persib di Roppongi, Tokyo / photo junanto
Kijang 1.. Kijang 1.. Harap posisi siaga, ada serombongan The Jakmania memasuki area Festival Indonesia”, demikian suara Norman Effendi, diplomat senior KBRI Tokyo yang juga bertugas sebagai ketua pelaksana Festival Indonesia 2012, melalui radio komunikasi saat melihat serombongan anak-anak muda Indonesia beratribut oranye memasuki arena Festival Indonesia di Roppongi Midtown kemarin (9/9).
Harap dipantau, di lapangan sudah berkumpul ratusan Baraya Viking atau Bobotoh Persib. Jangan sampai mereka bentrok!”, lanjut Norman mengingatkan petugas keamanan Festival. Saya melihat kekhawatiran di wajah Norman saat gerak rombongan The Jakmania, pendukung Tim sepak bola Persija Jakarta, mendekati ratusan Baraya Viking, pendukung Tim sepak bola Persib, yang sudah lebih dulu berada di tengah lapangan Roppongi Midtown.
Kekhawatiran Norman pastinya beralasan, karena selain keduanya adalah “musuh bebuyutan”, yang kerap kali terlibat bentrok di Indonesia, suasana Festival Indonesia juga kerap memanas. Tahun 2011 lalu, sempat terjadi sedikit ketegangan saat Festival Indonesia di Yoyogi Park. Saat itu ada orang Indonesia yang mabuk di tengah keramaian. Untung saja ia sempat diamankan sehingga acara berjalan lancar.
Oleh karenanya, pihak KBRI Tokyo untuk tahun 2012 ini meningkatkan pengamanan Festival guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau sampai terjadi kerusuhan pengunjung, bukan hanya memalukan KBRI Tokyo, tapi juga bangsa Indonesia.
Festival Indonesia adalah sebuah ajang yang digagas KBRI Tokyo untuk menampilkan aneka seni budaya, musik, pameran kerajinan, serta kuliner Indonesia. Tak heran, setiap diadakan Festival Indonesia, ribuan orang Indonesia dari berbagai daerah di Jepang menyempatkan hadir. Mereka umumnya adalah mahasiswa, pekerja Indonesia (kenshusei), dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang, selain tentunya warga Jepang dan asing lainnya.
Detik-detik pertemuan supporter kedua tim sepakbola yang bermusuhan tersebut cukup menegangkan. Saat itu, sekumpulan baraya Viking berseragam kaos biru Persib berteriak-teriak menyanyikan yel-yel Persib. Tak lama kemudian, dari pinggir lapangan, masuk sekumpulan orang beratribut oranye, warna khas Tim Persija Jakarta.
Catatan pertemuan kedua supporter tim tersebut juga buruk. The Jak 100% Anti Viking, demikian pula sebaliknya. Deretan kisah bentrok, yang kadang memakan korban jiwa, antara The Jak dan Viking menghiasi berita surat kabar.
Permusuhan Viking Persib dengan the Jakmania sempat berkembang pesat. Kedua pihak menebarkan kebencian dan mengeluarkan kaos serta lagu yang saling menghujat. Sikap ini makin meningkatkan kebencian sehingga justru beralih dari esensinya, yaitu mendukung tim sepakbola menjadi membenci supporter lawan.
Komisi Disiplin PSSI telah mengeluarkan larangan akan hal-hal yang menimbulkan kebencian. Upaya damai juga telah dirintis berbagai pihak. Namun di balik itu, permusuhan masih tersimpan.
13472308331208204660
The Jakmania di Roppongi sebelum memasuki lapangan / photo junanto
Latar belakang itulah yang menjadi kekhawatiran pihak panitia Festival Indonesia 2012 Tokyo. Oleh karenanya, hampir seluruh perhatian pengamanan siang itu diarahkan ke lapangan Midtown.
Akhirnya, saat yang dinanti terjadilah. Kedua supporter tim tersebut bertemu dan berhadap-hadapan di lapangan. Wajah petugas pengamanan tegang. Wajah para pendukung tim juga tegang.
Sesaat keduanya saling menatap. Kami, yang ada di pinggir lapangan cuma bisa berharap.
Tiba-tiba, satu orang dari anggota The Jak dan Baraya Viking keluar dan saling mendekati.
Waduh duel nih“, sebagian orang saya dengar berkomentar.
Para petugas pengamanan dari KBRI Tokyo juga sudah ambil ancang-ancang untuk berlari ke tengah lapangan apabila kemungkinan bentrok terjadi. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka malah berpelukan layaknya kawan lama yang tak bertemu. Ah, rupanya mereka berkawan.
Aman pak, keduanya berteman!”, lapor seksi pengamanan melalui radio komunikasi pada Norman.
1347230909383374854
The Jak dan Baraya Viking Akur di Jepang / photo junanto
Kedua pendukung tim tersebut kemudian berpisah mengambil tempat masing-masing di sisi panggung Festival Indonesia yang sore itu menampilkan Grup Band Kotak dari Indonesia. Saat Tantri, penyanyi Kotak, melantunkan lagunya, mereka semua sudah larut dalam lirik dan kebersamaan.
Pemandangan kedua tim yang akur di Tokyo tersebut cukup melegakan kita semua. Para pendukung Persib dan Persija di Jepang memang memiliki semacam komunitas “resmi” yang kerap berkumpul dan membuat aneka acara.
Di penutup acara, Dubes RI, M. Lutfi, dari atas panggung mengingatkan lagi akan kebersamaan kita sebagai bangsa. Di luar negeri, kebersamaan itu semakin terasa. Tak peduli ia Persib, tak peduli ia The Jak, kita semua adalah Indonesia.
Mungkin sebagian besar dari mereka juga takut akan pengamanan dari Kepolisian Jepang. Kalau mereka macam-macam, risikonya dideportasi. Tapi nampaknya bukan itu saja alasan mereka. Byan, ketua komunitas The Jak di Japan berkata pada saya, “Tidak ada gunanya kita saling bentrok pak, kita semua bersaudara dan acara ini adalah Festival Indonesia. Kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia adalah negeri yang ramah”.
Aaaah, andai hal itu juga bisa terjadi di Indonesia. Salam.
13472319161491540569
Baraya Viking, The Jak, Masyarakat Indonesia, Jepang, menyaksikan penampilan grup band Kotak, di Tokyo / photo junanto

Sumber : kompassiana
 

© Copyright Bicara Persib 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.